Obrolan Dewasa

Ngerumpi Bebas Tentang Seks (22+)

Bercinta di Gunung


Hari sudah menjelang senja ketika rombongan mahasiswa itu menuruni lembah Gunung Gumarang. Hamparan lembah yang luas itu memutih oleh putik bunga-bunga Edelweiss yang tumbuh subur di sela-sela pepohonan pinus yang menghijau. Lewat temaram senja, Edelweiss tampak memutih memantulkan cahaya perak kekuning-kuningan. Sungguh pesona alam yang sangat mengagumkan. Sebagian anggota pencinta alam itu melangkah dalam hening. Hanya deru nafas mereka yang sesekali terdengar. Udara dingin terasa keras menusuk kulit. Rudi sebagai pemimpin rombongan, berjalan paling depan. Pemuda berkulit hitam itu memalingkan wajahnya sejenak ke belakang, dicarinya sosok Aline, seorang cewek cantik yang sudah sejak tadi menarik perhatiannya, tapi gadis itu tidak tampak dalam rombongan. Rudi menghentikan langkahnya, matanya mencari-cari. Heh, di manakah gadis itu? Sekali lagi diperhatikannya kawan-kawannya yang lain satu per satu. Yah, bukan saja Aline yang tidak ada. Heri, Eveline, dan Lidia pun tak nampak di dalam rombongan itu.

Dia menyandarkan kepalanya di pundak Rudi yang tipis. Rudi membalas dengan makin mempererat pelukannya. Dan entah siapa yang memulai lebih dulu, tiba-tiba saja bibir mereka bertemu dan saling melumat. Keduanya saling memagut dan menghisap dengan mesra. Hawa gunung yang dingin, dan juga suasana romantis yang terbangun karena mereka cuma berdua saja di tempat yang sepi seperti itu, membuat keduanya cepat hilang kendali.

”Eh, ahhh… maaf.” gagap Rudi saat bibir mereka terpisah tak lama kemudian. Widya tidak menjawab. Gadis itu cuma memandangi Rudi dengan muka merah padam. Nafasnya juga sudah berat, menandakan kalau gairah gadis itu sudah menguasai dirinya.

”Sebaiknya kita tidak melakukannya sekarang.” Rudi melonggarkan pelukannya. ”Kenapa?” Widya tak mengerti. Rudi yang biasanya gampang terpancing, sekarang malah menolak dirinya. ”Kau takut Aline akan memergoki kita.” tebak gadis itu.

”Bukan, bukan itu.” Rudi menggeleng, tapi dalam hati dia membenarkan kata-kata gadis itu. Rudi tidak mau Aline memergoki saat dia sedang melakukan perbuatan cabul dengan Widya.

”Kalau begitu tunggu apalagi. Aku kedinginan, hangatkan aku dengan tubuhmu.” rajuk Widya sambil menjatuhkan diri menindih tubuh kerempeng pemuda itu. Kalau sudah begini, Rudi jadi tidak bisa berbuat apa-apa.

Rudi memandangi saat gadis itu mulai mencopoti bajunya satu per satu. Tubuh mulus Widya membuat iman tipis Rudi runtuh dengan mudah. Dia jadi melupakan untuk apa dia berada disini. Rudi tergoda, dia tak berdaya menatap bulatan payudara gadis, juga bongkahan pantat dan pinggulnya yang besar. Hawa dingin pegunungan turut mempercepat kekalahan pemuda itu. Widya sudah hampir telanjang ketika Rudi menarik dan merangkul tubuh sintal gadis itu.

”Auw,” gadis itu menjerit senang. Mereka berciuman. Bibir mereka bertemu untuk saling melumat dan menghisap. Widya tampak begitu menikmati bibir tebal Rudi yang menari-nari di mulutnya. Dia membuka bibirnya saat lidah Rudi menerobos masuk untuk membelit lidahnya, mengajaknya untuk saling menjilat dan bertukar air liur.

”Ehhmmhh,” Widya mendesis saat merasakan tangan nakal Rudi meraba-raba payudaranya. Pemuda itu meremas-remas dan memijit-mijit benda bulat besar itu dengan penuh nafsu.

”Hisap, Rud.” bisik Widya sambil mengarahkan putingnya yang berwarna merah kecoklatan ke mulut Rudi. Dengan cepat, pemuda itu mencaplok dan menghisapnya. Rudi melakukannya bagai seorang bayi yang kehausan, begitu cepat dan kuat. Dengan lidahnya yang basah, pemuda itu mencucup dan menggelitik benda mungil itu.

”Aahhhhh,” Widya merintih saat Rudi ganti mencaplok puting susunya yang sebelah kiri. Sementara yang kiri diemut, puting yang kanan dipilin dan ditarik-tarik, itu membuat Widya jadi semakin merintih dan menggelinjang keenakan. Apalagi sekarang, tangan kiri Rudi mulai merambat turun, membelai punggung dan pinggulnya, dan terus turun hingga ke bongkahan pantatnya.

”Uuhhh,” desis Widya saat Rudi menyelipkan jari-jarinya ke balik CD hitam yang dikenakan gadis itu. Widya bisa merasakan tangan Rudi yang sekarang meremas-remas bokongnya dengan keras. Dan tidak cuma berhenti sampai disitu. Saat Widya melepas celana dalamnya, Rudi langsung menggelitik dan memainkan vaginanya.

”Aiihhh,” jerit gadis cantik itu saat jari telunjuk Rudi masuk menusuk vaginanya yang menari-nari di dalam vaginanya sekarang. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Widya menjerit dan merintih-rintih keenakan.

”Sst,” Rudi segera menyambar bibir gadis itu. Rudi tidak ingin jeritan gadis itu sampai didengar orang. Sambil melumat bibir Widya, Rudi terus menggerakkan tangannya: mengocok dan menstimulasi vagina gadis itu, memberi kepuasan pada Widya seperti yang sudah sering dilakukannya selama ini.

”S-sudah, Rud. Aku nggak tahan lagi. Geli banget.” Widya menarik tangan Rudi. Nafas gadis itu tersengal-sengal, tubuhnya gemetar, sementara butiran keringat membasahi dahi dan lehernya, padahal saat itu udara begitu dingin.

Tersenyum, Rudi memperlihatkan tiga jari kirinya yang basah. ”Tapi enak kan?”
godanya. Widya pura-pura mau memukul pemuda itu, ”Dasar!” “Nih, lepasin.” Rudi meminta bantuan Widya untuk melepas baju dan celananya. Tampaknya, pemuda itu juga sudah tidak tahan.

Dengan cepat Widya melakukannya. Hanya dalam hitungan detik, Rudi sudah telanjang, sama seperti dirinya. Penis Rudi panjang dan besar, dengan warna hitam mengkilat saat penis itu tegang. Itulah kenapa Widya takluk kepada pemuda itu. Cuma Rudi yang bisa memberi kepuasan pada gadis itu. Tanpa perlu disuruh, gadis itu segera menunduk dan memasukkan penis itu ke dalam mulutnya. Dengan sedikit kesulitan, Widya menjilat dan mengulum benda itu. Rudi yang keenakan, cuma bisa merintih dan menikmati sambil memejamkan mata.

”Terus. Jilat terus. Ohh, enak banget, Wid. Terus!” rintih pemuda itu.Dengan penuh semangat Widya melakukannya, dia memasukkan penis itu, mengocok-ngocok
dengan mulutnya, membasahi benda itu, hingga tak lama kemudian penis itu menegang penuh, siap untuk digunakan. Vagina Widya juga sudah basah, begitu juga dengan penis itu. Inilah saat yang tepat untuk mempertemukan benda itu satu sama lain.

Rudi segera menghamparkan baju dan jaketnya sebagai alas. Dia menunggu hingga Widya siap dengan berbaring telentang mengangkang di depannya. Pelan, Rudi mengarahkan penisnya. Widya memejamkan matanya saat ujung penis Rudi menyentuh bibir kemaluannya.

”Ahhh,” Widya merintih. Dia menahan nafas, menunggu saat-saat yang mendebarkan itu, saat dimana penis Rudi yang besar menerobos masuk menembus vaginanya. Tapi alih-alih mendorong, Rudi malah menggesek-gesekkan penisnya naik turun. Dia sepertinya masih ingin bermain-main terlebih dahulu, membuat Widya yang sudah tidak tahan, menjadi tidak sabar.

”Ayolah, Rud. Masukkan.” Widya menarik pinggul laki-laki itu. Dan akibatnya, penis Rudi yang sedang menempel di kemaluannya, langsung terdorong masuk, bless! ”AAAHHHH!” Widya menjerit lirih. Tubuhnya bergetar dan menggelinjang saat merasakan penis Rudi yang besar menggesek dan memenuhi liang vaginanya.

”Uuhhh,” Rudi juga melenguh keenakan, jepitan dan kehangatan vagina Widya benar-benar membuatnya melayang. Meski sudah sering menyetubuhi gadis itu, tak urung Rudi tetap surprise juga. Kemaluan gadis itu seperti tidak pernah berubah, tetap seret dan rapet seperti lima bulan lalu, saat Rudi pertama kali menikmatinya di WC kampus.

”Sakit?” Rudi bertanya saat melihat kernyitan di bibir Widya. ”Nggak,” gadis itu menggeleng. ”Malah enak. Nggak apa-apa, teruskan saja.”Perlahan, Rudi menggerakkan pinggulnya. Pemuda itu menarik dan mendorong penisnya maju mundur, mengocok dan menggesek-gesek vagina Widya, hingga membuat kernyitan di bibir gadis itu berubah menjadi rintihan penuh kenikmatan tak lama kemudian.

”Uuhhh, terus. Enak, Rud. Terus!” Widya berbisik. Gadis itu menarik tangan Rudi ke arah payudaranya. Widya ingin agar sambil menggoyang, Rudi juga meremas-remas benda bulat besar itu.

”Wid,” bisik Rudi sambil mencium bibir gadis itu.Dengan malas Widya membuka matanya. Tampak sekali kalau gadis itu tengah mengalami kenikmatan yang amat sangat. Nafas Widya memburu, sementara mukanya merah padam, dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya yang sintal. Saat Rudi mempercepat goyangannya, gadis itu juga memperkeras rintihannya, membuat Rudi makin bersemangat dan bergairah untuk menyetubuhinya. Angin dingin yang bertiup dari arah puncak gunung tidak menyurutkan hasrat keduanya. Rudi malah semakin bergairah. Dia sudah lupa dengan Aline, Heru, atau siapapun yang ia tunggu. Yang ada dipikirannya sekarang cuma bagaimana melampiaskan nafsu pada gadis cantik yang sedang ditindihnya ini. Ia sudah tidak peduli meski Aline atau siapapun memergoki perbuatannya sekarang. Ia hanya ingin menumpahkan spermanya di dalam rahim Widya, karena itulah, Rudi menggoyang pinggulnya makin keras dan cepat. Begitu juga dengan Widya, semua sudah tak penting lagi. Kebersamaannya dengan Rudi-lah yang penting, bagaimana dia memanfaatkan dan menikmati waktu berdua ini sebaik mungkin. Apapun yang diminta laki-laki itu, Widya akan memenuhinya. Yang penting dia bisa terpuaskan dan Rudi tidak kecewa sehingga tidak akan menolak kalau lain kali diajak lagi. Dan seperti saat ini, Rudi meminta Widya untuk menunduk dan menungging. Ini adalah posisi kesukaan Rudi: Doggie Style. Dengan senang hati, Widya memenuhinya.

”AHHHH!” jerit gadis itu saat penis besar Rudi menerobos vaginanya dari belakang. Rasanya memang sedikit sakit, tapi biasanya itu cuma diawal saja, dan setelah beberapa kali goyangannya, rasa sakit itu akan digantikan oleh rasa nikmat yang amat sangat.

”Enak banget, Wid.” bisik Rudi di telinga gadis itu. Widya cuma mengangguk. Dia sedang melayang sekarang. Gesekan penis Rudi di kemaluannya benar-benar membuatnya nikmat, geli dan basah bercampur menjadi satu, menciptakan suatu sensasi yang membuat Widya tak tahan kalau tidak merintih.

”Terus, Rud. Oohhhh, terus. Tekan lebih dalam!” rengek gadis itu meski tahu penis Rudi sudah berkali-kali mentok menabrak dinding rahimnya.”Enak, Wid. Aku jadi tak tahan.””J-jangan keluar dulu. T-tunggu aku.” Widya memejamkan mata, berusaha meresapi semua kenikmatan itu.

Bersamaan dengan geraman Rudi, Widya vaginaik dan mengejang beberapa kali. Tubuhnya menggelinjang diiringi dengan dengan semprotan-semprotan panjang di dalam vaginanya. Dia orgasme! Di belakangnya, Rudi menyambut orgasme itu dengan menekan penisnya dalam-dalam. Dari dalam penis hitam itu, terlontar berjuta-juta sperma yang langsung memenuhi rahim Widya, bercampur dengan cairan cinta Widya, hingga membuat vagina gadis itu menjadi begitu penuh. Rudi merasakan penisnya seperti direndam dalam cairan yang lengket dan hangat. Benar-benar luar biasa, nikmat sekali rasanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 8 Agustus 2016 by in Cerita Seks and tagged , .

Arsip

Dapatkan artikel seputar seks

Bergabunglah dengan 113 pengikut lainnya

Tamu

  • 1,883,799 hits

HTML hit counter - Quick-counter.net
PageRank Checker

Seks Ekstrim

Gaya dan posisi bercinta ekstrim

Foreplay

Posisi Seks Favorit

Gaya Seks Hot

CD & LIngerie Pilihan

Top Rated

Tips Seks Pria

Teknik Oral Seks

Tips Seks Wanita

%d blogger menyukai ini: