Obrolan Dewasa

Ngerumpi Bebas Tentang Seks (22+)

KeNikmatan Bersama (Cerita Seks Three Some)


Namaku Adi, mahasiswa angkatan 2000. Kisah ini terjadi pada bulan April 2001, ketika kami menjalani mid-test. Semua bencana ini dimulai ketika Susan dan Lingga (mereka adalah bunga kelas di kelasku) mereka memintaku untuk belajar bersama, pada mulanya aku tidak curiga jadi banyak yang ingin belajar bersamaku, jadi kukabulkan saja permintaan mereka.

Setelah pulang kuliah, sekitar pukul 17:10, Lingga mengajakku ke tempat kostnya di Jl. S, bersama Susan kami bertiga berjalan kaki, tidak terbesit maksud jahat dari raut wajah mereka yang putih mulus. Sepanjang perjalanan aku terus memandangi dada Susan yang tergoncang-goncang naik turun. Ingin rasanya aku meremas-remasnya, tapi kucoba untuk menghilangkan fantasi kotorku. Wajah Susan yang mirip Katie Holmes menambah keinginanku untuk mencium bibir merahnya yang seksi.

Sesampai di kamar kostnya, Lingga mempersilakanku duduk, aku terpaksa duduk di ranjang karena tak ada sofa yang tersedia. Tiba-tiba kurasakan sentuhan halus di pundakku, ternyata tubuh Susan yang montok telah menghinggapiku. Aku berdiri dan berjalan menuju pintu. Tiba-tiba Lingga mencegatku di pintu dan mengunci pintu rapat-rapat. Lingga mendorongku ke ranjang dimana Susan telah menanti, Susan memegangiku dengan erat, sementara Lingga mulai melepas kaos ketatnya warna biru gelap dan aku hanya terpana menatap tubuh seksi dan putih tanpa cacat. Tak pelak lagi, branya menyembul keluar dengan dua buah dada yang bulat berisi, kira-kira ukuran 32B. Memang aku sering mengintip bra Lingga di kelas, karena ia sering menggunakan kemeja dan kuintip dari lubang kancingnya yang sering menganga di kelas, tapi keadaannya berbeda sekarang, tak ada “penghalang” lagi antara tanganku dengan buah dadanya, baru kali ini kulihat jelas dada Lingga yang makin membuatku tak sadar lagi dan ada sesuatu yang menonjol dari celanaku. Perlahan ia mulai melorotkan celana panjang ketat warna abu gelap, dan CD warna biru langit cerah secerah paha dan tungkai kakinya yang ingin kujilati terpampang jelas di depan batang hidungku.

Susan melepas kaos dan celana jinsku, Susan sendiri mempersilakan jemariku piknik di pusarnya yang dilanjutkan “tur” melingkari buah dadanya sebanyak lima putaran penuh. Kuraba payudara Susan mulai dari pangkal sampai area putingnya, tapi sayang ia masih terbungkus kaos ketat dan branya, Susan terangsang dan mulai mendesah-desah, kutambah tempo remasanku dan Susan merintih dengan nada kenikmatan yang keluar dari mulutnya.

Lingga menghampiriku, “adik kecil”-ku sudah tak tahan lagi ingin segera keluar bermain. Susan mulai menelanjangi dirinya sendiri, dilepasnya kaos ketat warna merah menyala. Waw, ternyata buah dadanya lebih besar daripada Lingga, sekitar ukuran 33D. Susan dengan rela membuka jins-nya, CD merah jambu transparan yang dikenakannya menaikkan libido-ku.

Tanpa pikir panjang, Lingga langsung melepas kait branya dan 2 buah dada besar, putih, gempal diserahkan di atas pangkuan pahaku, dia pun mulai membuka celana dalamku, dan memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegak 90 derajat ke rongga mulutnya dengan bibir yang mungil, ia terbilang ahli melakukannya. Dijulurkan lidahnya menjilati testisku, dilanjutkan ke bagian kepala, tak disangka mulutnya sudah patroli di batang kemaluanku. Kepala Lingga mulai maju-mundur di selangkanganku. Kujambak rambut panjangnya yang pirang dicat dan kubantu ia melakukan “oral seks”. Aku baru merasakan hisapan yang hebat.

Kemudian, Susan ikut melepas bra-nya, dan aku kaget sekali punggungku di tempeli oleh payudaranya. Ternyata dia sedang melakukan “pijat Thailand” dengan sempurna. Ia mulai dari bagian pinggang, putingnya yang sudah membusung memberikan sensasi sendiri bagi diriku. Susan mulai “sweeping” dari bawah ke atas lalu ke bawah lagi sambil mengantri gilirannya. Lama kelamaan ia mulai lelah dan memegang pundakku sebagai pegangan, tanganku yang masih “nganggur” membantunya dengan meremas-remas untuk menambah energi gesekan yang ditimbulkannya, aku yakin Susan sudah sering melakukannya dengan laki-laki lain.

Setelah Lingga selesai mengemut batangku, ia melepaskan CD-nya dan lubang kemaluannya yang terawat baik disodorkan ke batang kemaluanku, tak kusangka aku ditarik olehnya dan ia memasukkan sendiri ke lubang kemaluannya. Aku menyanggupi keinginannya yang juga menyanggupi keinginan bejatku selama ini. Sambil dalam posisi duduk dan dipijat ala Thailand oleh Susan aku melayani Lingga sampai ia orgasme dan menjerit-jerit kesakitan, kupelintir puting susu merah mudanya, sambil kupangkas sedikit demi sedikit bulu kemaluannya.

Susan yang melihat Lingga bahagia, langsung iri dan ikut melepas CD-nya, Susan memang agak gemuk, tapi ia lebih montok berisi, sementara Susan dan Lingga memperebutkan kemaluanku, aku mengambil nafas dan mempersiapkan diri untuk “kewajiban”-ku berikutnya. Lingga akhirnya mengalah karena kelelahan, saat “shift”-ku berikutnya bersama Susan aku makin bergairah. Dadanya yang besar pas untuk tanganku yang nakal, Susan dengan bibirnya yang “menantang” menjilati batang kemaluan, dan lubang Susan pun tak luput dari serangan peluru karetku. Dengan penuh gairah, ia naik ke atas tubuhku dan mulai bersenggama denganku hingga kedua buah dadanya menggelepar kencang dibuatku, tak lupa kucicipi juga air susu sehat darinya, kugigit gigit sampai agak berwarna kemerahan. Kami bertiga benar-benar menikmatinya.

Susan akhirnya lelah dan lemas olehku, Lingga yang kembali fit ingin melanjutkan aksinya kembali, kutumpahkan saja air maniku ke mulut kemaluannya, setelah itu kusisakan juga untuk Susan tapi tumpah di rambut hitamnya yang terurai di atas kemaluanku.

Susan bangun dan mengambil HP Nokia 3310 miliknya dan Nokia 8810 silver milik Lingga, disetnya dalam posisi vibrate, dan ia mulai mengaktifkannya, HP bergetar dan mereka minta aku memasukkan dalam lubang kemaluannya. Mereka tidur terlentang berdampingan dan aku menindih di antara mereka, kumasukkan HP Nokia 3310 Susan terlebih dahulu, dan Susan menggelinjang karena getaran yang dahsyat, Nokia 8810 memang lebih kecil dan Lingga terlihat kurang puas dengan vibrate HP-nya, karena kasihan kubantu dengan jari tengahku yang kutancapkan ke mulut rahimnya. Akhirnya Lingga tersenyum puas sambil mendesah. Mereka bilang mereka sering “onani” dengan cara begini dan sudah sering terjadi berulang kali bila sedang tak ada “korban” yang mereka mangsa.

Lingga mulai mansturbasi dengan meraba-raba sendiri payudaranya, tak kusangka Lingga mulai meraba puting Susan, Susan mencoba berontak dan menghentikan Lingga, Lingga mengambil tiruan alat kelamin pria yang disimpan di laci kamarnya dan mulai dipakainya untuk bersanggama dengan Susan. Selangkangan Susan direnggangkan dan ia mulai memasang sabuk kemaluannya dan mereka mulai melakukan hubungan lesbian sesama mereka. Melihat kejadian itu, aku sebenarnya simpati terhadap Susan yang hanya menjadi objek saja, Susan terlihat kelelahan meronta-ronta karena ukuran batangan tiruan itu besar sekali.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, kami langsung kaget, ternyata tak kusangka Siska, teman sekelasku datang, aku heran. Siska bertanya pada Lingga, “Ada anak baru nih?”
Lingga jawab, “Iya nih, alim-alim di kelas, disini buas.” Susan berteriak, “Ayu gabung puas deh!”

Siska bergegas melepas kaos ketat merah muda yang transparan, bra warna biru yang dipakainya langsung berloncatan ke arahku, payudara Siska memang kecil, tapi mukanya yang manis mengundang iba dariku untuk memuaskannya. Tinggi Siska memang tak sebanding denganku, badannya juga kecil, pinggangnya kurus. Asumsiku bahwa Siska akan tidak mampu bermain denganku sampai tuntas ternyata salah. Ia bermain dengan garang sekali, penuh pengalaman dan nafsu birahi terpancar dari mata sipitnya yang indah.

Aku mulai mencium bibir indahnya kulanjutkan ke bawah, kugigit kait bra-nya dan ternyata seperti yang kuduga sebelumnya. Selama ini payudara Siska hanya tertolong oleh bra busa yang rutin digunakannya ke kampus. Payudara aslinya sangat kecil, but size doesn’t matter to me, dan Siska melepas jins-nya yang kebesaran dan CD-nya pun dengan penuh liukan tubuh mungilnya dilepas di depan mulutku, kontan saja langsung kuhisap bulu kemaluannya, Siska langsung mendesah dan berteriak-teriak.

Susan nyeletuk, “Eh! Anak kecil, Siska jangan lu siksa gitu donk! gua kan jadi ngiri.” Lingga menambahi, “Iya, liat-liat donk ukuran lu, berat ampir 80 kg, jangan berani ama yang kecil, ama gua aja lagi yuk!”
Siska yang mendengar sindiran itu langsung unjuk gigi agar teman-temannya tidak underestemate terhadapnya. Siska menindihku dengan posisi 69, adikku betah keluar masuk lubangnya, lubang kemaluan Siska mulai mengeluarkan cairan lendir putih dan nafasnya mulai terenga-engah tak karuan, ia mulai orgasme, kuturunkan tempo permainanku, dan kutarik keluar batang kemaluanku untuk memberikan kesempatannya menge-charge baterainya. Aku nyambi mengelus dada Lingga dan jari tengah kiriku menginap di lubang kemaluan Susan.

Siska minta tambah dan kusanggupi kuremas dadanya, karena kata mitos bila ingin mempunyai buah dada besar harus rajin diremas-remas oleh cowok. Aku mempraktekkan gaya “family style” pada Siska dan aku langsung orgasme dan ingin memuncratkan maniku. Melihat itu, Susan langsung meng-“intercep” aksiku dengan menyodorkan lubang kemaluannya untuk kusemprot dengan spermaku, dia minta disembur di dalam bukan di luar, ternyata dia tak takut hamil nanti. Lingga minta sedikit untuk dituangkan di mulutnya, Lingga bilang itu obat awet muda dan tetap mulus. Siska jelas cemburu melihatnya, ia langsung mengemut batang kemaluanku untuk mengumpulkan spermaku yang masih tersisa, ia membersihkan kemaluanku dengan bersih sampai mengkilat, bibir dan gusinya penuh dengan lendir maniku ia menelan ludah dalam-dalam sambil meremas-remas batang kemaluanku yang sudah mulai terkulai lemas.

Malam mulai larut, tak kusangka kami sudah melakukan kegiatan ini lebih dari 3 jam. Aku bergegas berpakaian, kucari cari dimana celana dalamku, ternyata Lingga sedang asyik menjilati celana dalamku, segera kurebut dari genggamannya, karena ia masih bugil jadi kuberi salam perpisahan berupa cubitan kecil di clitorisnya dan segera bergegas pulang.

Kuambil motor Tornado-ku yang kuparkir di dekat kampus dan ternyata Siska yang sudah berpakaian lengkap menghampiriku dan meminta tumpangan pulang ke rumahnya di daerah Karang Anyar yang masih dekat dengan rumahku, sepanjang perjalanan pulang, ia menekan-nekan payudaranya ke arah punggungku, hal itu jelas mengacaukan konsentrasiku mengendarai motor.

Keesokkan harinya di kampus, mereka berdua berterimakasih padaku atas waktu dan kepuasan sejati yang kuberikan. Sampai saat ini, biarlah cerita ini menjadi rahasia kecil bagi kami berempat. Kusimpan beberapa helai bulu kemaluan Lingga sebagai souvernir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Juli 2016 by in Cerita Seks and tagged , .

Arsip

Dapatkan artikel seputar seks

Bergabunglah dengan 113 pengikut lainnya

Tamu

  • 1,889,849 hits

HTML hit counter - Quick-counter.net
PageRank Checker

Seks Ekstrim

Gaya dan posisi bercinta ekstrim

Foreplay

Posisi Seks Favorit

Gaya Seks Hot

CD & LIngerie Pilihan

Top Rated

Tips Seks Pria

Teknik Oral Seks

Tips Seks Wanita

%d blogger menyukai ini: