Obrolan Dewasa

Ngerumpi Bebas Tentang Seks (22+)

Drama Bercinta (1)


Kamarnya sedeng2 aja, gak besar, fasilitasnya standar saja, tempat tidur besar, sofa, meja rias, tv dan lemari es. Kulihat kamar mandinya juga standar tanpa bathup, hanya shower saja, toilet dan wastafel. Baiknya masih disediakan sabun, odol dan sikat gigi. “Not bad kan kamarnya, gak mewah seh, disesuaikan dengan kantongku kan”. Aku masuk kamar mandi dan membersihkan badan, kukira dia akan mengikuti aku mandi, ternyata tidak. Selesai mandi aku hanya mengenakan daster tanpa bra.

Memang bagian dada daster itu rendah sehingga kalo aku membungkuk, toketku yang besar montok itu seakan amu keluar dari dasterku. Memang dirumah aku biasanya pake daster seperti itu, sehingga bisa dimengerti kalo suamiku selalu napsu melihat aku seperti itu. Itu yang menjadi perhatian dia. Dia kemudian yang membersihkan diri, selesai mandi, Dia memegang daguku dan mukaku ditolehkan ke arah mukanya, kemudian perlahan dia mencium bibirku. Karena aku juga mulai panas menyaksikan adegan gulet di film, aku menyambut ciumannya dengan mengemut bibirnya.

Karena aku memberi repons positif, tangannya mulai mengarah ke toketku, langsung saja diremasnya dari luar daster. karena aku tidak mengenakan bra, dia lebih leluasa meremas dan memlintir pentilku. Tangannya kemudian menyusup ke balik dasterku dari bagian dada dan makin getol saja tangannya menggarap toket dan pentilku. Dia melepas bibirku dan mulai menciumi telingaku dan terus ke leherku. Tahu dia bahwa telinga dan leher merupakan salah satu dari sekian banyak titik sensitif di tubuhku. Aku mulai melenguh menikmati ulahnya, pentilku mengeras karena terus diplintir2. “Bang, …” lenguhku. “Kenapa Sin, udah gak tahan ya, pengen dilanjut…” katanya sambil tersenyum. “Buka ya dasternya”, katanya sambil menarik dasterku keatas.

Aku mengangkat tanganku keatas untuk mempermudah dia melepas dasterku. Dia melotot memandangi tubuhku yang hanya berbalut cd mini yang tipis. Karena CDku mini, jembutku yang lebat berhamburan dari bagian atas, kiri dan kanan CDku. “Jembut kau lebat ya Sin, pasti napsu kau besar ya”, katanya sambil mengemut2 pentilku sambil meremas toketku. “Toketmu kenceng ya Sin”, katanya. Sambil menikmati remasan tangannya, tanganku juga tidak tinggal diam, kuremas kontolnya dari luar celana pendeknya. “Bang, ngacengnya sudah keras banget”, kataku.

Aku sudah tidak bisa menahan napsuku lagi. Aku telentang diranjang, menunggu aksi selanjutnya dia bangkit dan melepaskan t shirt dan celana pendeknya, sehingga tinggal cdnya yang melekat di tubuhnya. Tampak selangkangannya sangat menonjol, pertanda
kontolnya sudah ngaceng dengan penuh. Player dimatikan dan ia berbaring disebelahku, bibirku kembali diciumnya dengan penuh napsu dan tangannya kembali meremas2 toketku sambil memlintir2 pentilnya. “Isep dong bang..” pintaku sambil menyorongkan toketku itu ke wajahnya. Langsung toketku disepnya dengan penuh napsu. Pentilku dijiatinya.”Ohh.. Sstt..” erangku keenakan. Jarinya mulai mengelus jembutku yg nongol keluar dari CDku, kemudian disusupkannya ke dalam CD-ku. Jarinya langsung menyentuh belahan bibir no nokku dan digesek-gesekkan dari bawah ke atas. Gesekannya berakhir di itilku sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. nonokku langsung berlendir, “Oo.. Ooh! Uu.. Uuh!” desahku sambil menekan tangannya yang satunya untuk terus meremas-remas toketku. Aku sungguh sudah tidak tahan lagi, “Bang, Sintia udah gak tahan nih”. CD-ku didorong kebawah sampai terlepas dari kakiku. Aku mengangkat pantatku untuk mempermudah dia meloloskan penutup terakhir tubuhku. Kedua kaki kukangkangkan sehingga tampak jelas jembutku yang lebat. Dia kembali meraba dan mengelus nonokku. Dia menyelipkan jarinya ke belahan nonokku yang sudah basah dan menyentuh dinding dalam nonokkku. “Bang..! Aduuh! Sintia sudah enggak tahan, udah pengen dimasukkin”, pintaku. Bukannya langsung memenuhi permintaanku malah jarinya beralih menggosok-gosok it ilku. “Aduuh! abang..nakal!” seruku. Aku pun semakin tidak karuan, kuremas kontolnya yang sudah keras sekali dari luar CD nya. Toketku yang sudah keras sekali terus saja diremas2, demikian juga pentilku. “Ayo dong bang dimasukin, Sintia sudah benar-benar enggak kuu..at!” rengekku lagi.

Kemudian dimasukkannya jarinya ke dalam nonokku yang sudah basah kuyup. Benjolan seukuran ibu jari yang tumbuh di dalam liang nonokku dimainkannya dengan ujung jarinya hingga badanku tiba-tiba menggigil keras dan kugoyang-goyangkan pantatku mengikuti permainan ujung jarinya. Dia menelungkup diselangkanganku dan mulutnya langsung mengulum bibir nonokku.

Dijilatinya dan setelah bersih bibirnya kembali mengulum bibir nonokku. Kemudian giliran itilku mendapat giliran dikulum dan dilumat dengan mulutnya. Jari tangannya kembali menyeruak masuk ke dalam nonokku, aku benar-benar hampir pingsan dibuatnya. Tubuhku kembali terguncang hebat, kakiku jadi lemas semua, otot-otot perutku jadi kejang dan akhirnya aku nyampe, cairan nonokku yang banjir ditampung dengan mulutnya dan tanpa sedikit pun merasa jijik ditelan semuanya.

Aku menghela napas panjang, dia masih dengan lahapnya melumat nonokku sampai akhirnya selangkanganku benar-benar bersih kembali. nonokku terus diusap2nya, demikian juga it ilku sehingga napsuku bangkit kembali. “Terus bang.. Enak..” desahku. “Ayo dong bang.. Sintia udah nggak tahan”. Tetapi dia masih tetap saja menjilati dan menghisap itillku sambil meremas2 toket dan pentilku. Dia melepaskan CDnya, kon tolnya yang lumayan panjang dan besar sudah ngaceng keras sekali mengangguk2. Aku dinaikinya dan segera dia mengarahkan kon tolnya ke nonokku. Perlahan dimasukkannya kepala kon tolnya.

“Enak bang.” kataku dan dia sedikit demi sedikit meneroboskan kontolnya ke nonokku yang sempit. nonokku terasa sesek karena kemasukan kontol besar, setelah kira-kira masuk separuh lebih kon tolnya mulai dienjot keluar masuk. “Terus bang.. kon tolnya enak” erangku keenakan. Dia terus mengenjot nonokku sambil menyorongkan dadanya ke mulutku. Pentilnya kuhisap. Belum

berapa lama dienjot, aku mengajak tukar posisi. Sekarang aku yang diatas. Kuarahkan nonokku ke kontolnya yang tegak menantang. Dengan liar aku kemudian mengenjot tubuhku naik turun. Toketku yang montok bergoyang mengikuti enjotan badanku. Dia meremas toketku dan menghisap pentilnya dengan rakus. “Bang.. ko tolnya besar, keras banget..”, aku terus menggelinjang diatas tubuhnya. “Enak Sin?’ tanyanya. “Enak bang.. entotin Sintia terus bang..” Dia memegang pinggangku yang ramping dan menyodokkan kontolnya dari bawah dengan cepat. Aku mengerang saking nikmatnya. Keringatku menetes membasahi tubuhnya. Akhirnya, “Sintia nyampe bang” jeritku saat tubuhku menegang merasakan nikmat yang luar biasa. Setelah itu tubuhku lunglai menimpa tubuhnya. Dia mengusap-usap rambutku sambil mencium bibirku. “Bang, nikmat sekali. Baru pertama ini Sintia ngerasain nikmatnya kontol bang”.

Setelah beberapa saat, kontolnya yang masih ngaceng dicabut dari dari nonokku. Aku ditelentangkannya, dan dia naik ke atasku.”Oocch! Bang.. Teruu.. Uus! Sintia nyampe lagi bang”, suaraku semakin parau saja. Kugoyangkan pantatku mengikuti irama gesekan wajahnya yang terbenam di selangkanganku. Kujepit kepalanya dengan pahaku, badanku menggigil hebat bagaikan orang kejang. Kini dia membetulkan posisinya sehingga berada di atasku, kontol nya sudah mengarah ke nookku. Aku merasakan sentuhan ujung kontolnya di nonokku, kepala kontol nya terasa keras sekali. Dengan sekali dorongan, kepala kontolnya langsung menusuk nonokku. Ditekannya sedikit kuat sehingga kepala kontol nya terbenam ke dalam nonokku. Walau kontol nya belum masuk semua, aku merasakan getaran-getaran yang membuat otot nonokku berdenyut, cairan yang membasahi nonokku membuat kontolnya yang besar mudah sekali masuk ke dalam nonokku hingga dengan sekali dorongan lagi maka kontolnya masuk kedalam sarangnya, blee.. ess.. Begitu merasa kontolnya sudah memasuki nonokku, kubalik badannya sehingga kembali aku berada di atas tubuhnya, kududuki batang kontolnya yang cukup panjang itu. Kugoyangkan pantatku dan kuputar-putarkan, kukocok naik turun hingga kontolnya keluar masuk nonokku, dia meremas- remas kedua toketku. Lebih nikmat rasanya ngentot dengan posisi aku diatas karena aku bisa mengarahkan gesekan kontol besarnya ke seluruh bagian nonokku termasuk itilku. Kini giliran nya yang tidak tahan lagi dengan permainanku, ini dapat kulihat dari gelengan kepalanya menahan nikmat yang sebentar lagi tampaknya akan ngecret. Dan ternyata benar juga, dia memberikan aba-aba padaku bahwa dia akan ngecret, “Sin, aku dah mau ngecret, boleh didalem ya Sin”. “Ngecretin
didalem aja bang, biar tambah nikmat. Kita nyampe sama-sama..bang”, rintihku sambil mempercepat kocokan dan goyangan pantatku. “Aa..Aacch!” Akupun nyampe lagi, kali ini secara bersamaan dengan dia, bibir nonokku berkedutan hingga meremas kontolnya. Pejunya dan lendir nonokku bercampur menjadi satu membanjiri nonokku. Karena posisiku berada diatas, maka cairan kenikmatan itu mengalir keluar merembes melalui kontolnya sehingga membasahi selangkanganku, banyak sekali dan kurasakan sedikit lengket-lengket agak kental cairan yang merembes keluar itu tadi. Kami berdua akhirnya terkulai lemas.

Posisiku tengkurap disampingnya yang terkulai telentang. “Bang, pinter banget sih ngerangsang Sintia sampe berkali2 nyampe, udah gitu kontol abang kalo udah masuk terasa sekali gesekannya, abis gede banget sih”, kataku. “nonokmu juga nikmat sekali Sin, peret banget deh, kerasa sekali cengkeramannya ke kontolku”, jawabnya sambil memelukku.

Setelah selesai, aku bangkit dari tanjang ke kamar mandi, membersihkan sisa2 peju dan cairan nonokku yang melelh keluar. Lemes banget deh, bener kata bang Frans, nikmat itu membuat kita terkapar saking lemesnya. Aku berbaring di ranjang, sementara dia masuk ke kamar mandi. Karena cape, akhirnya aku tertidur. Tidak tahu berapa lama aku tertidur, tiba2 aku terbangun karena merasa toketku ada yang mengelus2. Aku terbangun dan melihat dia duduk disebelahku dan sedang mengelus2 toketku. “Cape ya Sin, sampe ketiduran”. Dia memelukku. Bibirku langsung dicipoknya. kusambut saja ciumannya. Toketku langsung menjadi sasaran remasannya. Pentilku segera mengeras dan diplintir2nya, napsuku mulai bangkit. Sambil meremas toketku, dia menjilati toketku, disedotnya pentilku sampai aku gemetar saking napsunya.

Kakiku dan kedua pahaku yg mulus itu dibukanya sambil dielus2 dengan satu tangan masih meremas toketku. Setelah itu selangkanganku dijilati, “Nih jembut lebat banget sih, tapi aku suka kok ngentotin prempuan yang jembutnya lebat, apalagi toketnya besar seperti kau”. “Napa bang”, tanyaku terengah. “Cewek yang jembutnya lebat kan napsunya besar, suka binal kalo lagi dientot”.

“Bukannya binal bang, tapi menikmati”, jawabku. Bibir nonokku langsung dijilatnya, lidahnya juga masuk ke nonokku, aku jadi menggelinjang nggak terkontrol, wajahku memerah sambil terdongak ke atas. kontolnya sudah ngaceng lagi dengan kerasnya. “Bang kuat banget, baru aja ngecret dah keras gini lagi”. Aku hampir tak dapat memegangnya dengan kedua tanganku. “Dikocok ya bang”, aku mengocok kontolnya dengan gemas, makin lama makin membesar dan memanjang. “diemut ya”, kataku keenakan. aku duduk sambil mengarahkan kontol yg ada digenggamanku ke arah mulut ku. Aku mencoba memasukkan kedalam mulutku dengan susah payah, karena besar sekali jadi kujilati dulu kepala kontolnya. Dia mendesah2 sambil mendongakkan kepalanya. Kutanya “Kenapa bang”. “Enak banget, terus Sin, jangan berhenti”, ujarnya sambil merem melek kenikmatan. Aku jilatin kon tolnya mulai dari kepala kon tolnya sampai ke pangkal batang, aku terusin ke biji pelirnya, semua aku jilatin. Aku coba untuk memasukkan kedalam mulutku lagi, udah bisa masuk, udah licin terkena ludahku. Dia
memegangi kepalaku dengan satu tangannya sambil memaju-mundurkan pantatnya, mengen toti mulutku. Sedang tangan satunya lagi meremas toketku sebelah kanan. Gerakannya semakin lama semakin cepat. Tiba2 dia menghentikan gerakannya.

kontolnya dikeluarkan dari mulutku. Dia menaiki tubuhku dan mengarahkan kontolnya ke toketku, “Sin, aku mau ngerasain kontol ku kejepit toket kau yang montok ya”. Aku paham apa yang dia mau, dan dia kemudian menjepit kon tolnya di antara toketku. “Ahh.. Enak Sin”, erangnya menahan nikmat jepitan toketku. Dia terus menggoyang kontolnya maju mundur merasakan kekenyalan
toketku. Sampai akhirnya “Aduh Sin, sebentar lagi aku mau ngecret, keluarin di mulut kau ya”. “Jangan bang, di nonok Sintia aja”, jawabku. Aku bukannya tidak ingin merasakan pejunya dimulutku, tapi lebih baik dingecretkan di nonokku, aku juga bisa ngerasain nikmat.

Diapun naik ke atasku sambil mengarahkan kontolnya ke nonokku. Dia mulai memasukkan kon tolnya yang besar dan panjang itu ke nonokku. Pantatnya semakin didorong2, sampai aku merem melek keenakan ngerasain nonokku digesek kontolnya. Dia mulai menggerakkan kontolnya keluar dan masuk di nonokku yang sempit itu. “Wuah Sin, sempit betul nonokmu”, dia menggumam tak keruan. Aku mulai merasakan nikmat yg luar biasa. Lebih nikmat dari yang pertama tadi. Secara naluri aku gerakkan pantatku kekanan dan kekiri, mengikuti gerakan kontolnya yg keluar masuk, wuihh tambah nikmat. Kulihat wajahnya menikmati sekali gesekkan kontolnya di nonokku. Tubuhnya yg berada diatas tubuhku yang putih mulus, bergoyang-goyang maju mundur, dia memperhatikan kontolnya sendiri yang sedang keluar masuk di nonokku. Selang beberapa saat, aku mengajak ganti posisi, dia pasrah aja. Aku nungging, dan dia menyodokkan kontolnya dari belakang ke nonokku. Enngghh…” desahnya tak keruan. Sambil menggoyang pantatnya maju mundur, dia memegangi pinggulku dengan erat, aku merasa nikmat yang luar biasa. Tidak tahu berapa lama dia menggenjot n nokku dari belakang seperti itu, makin lama makin keras sehingga akhirnya aku nyampe, “Bang, enjot yang keras, nikmat sekali rasanya”, jeritku. Dia mengenjot kontolnya lebih cepat lagi dan kemudian pejunya muncrat didalam nonokku berulang-ulang, banyak sekali. ‘crottt, croooth.., crooootttthh…’ Aku merasa nonokku agak membengkak akibat disodok oleh kontolya yang besar itu. Setelah istirahat beberapa saat, dia bertanya padaku “Gimana Sin? enak kan?”. “Enak sekali bang, rasanya nikmat sekali, nonok Sintia sampe sesek kemasukan kontol abang, abis gede banget sih”, jawabku. Dia mencabut kontolnya yang sudah lemes dari nonokku. kontolnya berlumuran pejunya dan cairan nonokku. Mungkin saking banyaknya ngecretin pejunya di nonokku. Aku yang kelelahan hanya terkapar di ranjang. Tak lama kemudian aku tertidur lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Maret 2016 by in Cerita Seks and tagged .

Arsip

Dapatkan artikel seputar seks

Bergabunglah dengan 113 pengikut lainnya

Tamu

  • 1,883,799 hits

HTML hit counter - Quick-counter.net
PageRank Checker

Seks Ekstrim

Gaya dan posisi bercinta ekstrim

Foreplay

Posisi Seks Favorit

Gaya Seks Hot

CD & LIngerie Pilihan

Top Rated

Tips Seks Pria

Teknik Oral Seks

Tips Seks Wanita

%d blogger menyukai ini: